Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Kebijakan Kesehatan Ibu dan Anak

  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 203 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 198 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 179 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 178 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 177 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 176 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 174 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 146 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 62 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.
  • user warning: Can't create/write to file '/tmp/#sql_2ac_0.MYI' (Errcode: 122) query: SELECT t.* FROM term_node r INNER JOIN term_data t ON r.tid = t.tid INNER JOIN vocabulary v ON t.vid = v.vid WHERE r.vid = 2 ORDER BY v.weight, t.weight, t.name in /home/kebijaka/public_html/kki_drupal/modules/taxonomy/taxonomy.module on line 632.

Bagaimana Peran LSM dan Universitas untuk memantau proses penganggaran dan penyaluran anggaran pemerintah pusat?

Latar Belakang:
Upaya pencapaian MDG 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak dan MDG 5 untuk meningkatkan kesehatan ibu di Indonesia sampai saat ini masih berat. Banyak hambatan baik dari segi teknis program maupun dari faktor pembiayaan kesehatan yang mempengaruhi upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan. Sistem desentralisasi kesehatan yang telah diterapkan selama bertahun-tahun memberi kesempatan daerah untuk lebih berperan dalam merencanakan dan melaksanakan program kesehatan khususnya untuk kesehatan ibu dan anak, namun di dalam pelaksanaannya banyak menghadapi kendala.
Saat ini telah dilakukan analisis mengenai hambatan dan sumbatan (bottleneck) pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat dan daerah. Terlah dilakukan pula berbagai diskusi dan pengamatan tentang pendanaan kesehatan ibu dari pemerintah pusat selama beberapa tahun terkahir. Hasilnya adalah ada berbagai hambatan dan sumbatan dalam peraturan, sistem penyaluran, dan aspek politik. Akibatnya dana pemerintah pusat tidak mampu secara efektif menjangkau yang membutuhkan.
Untuk mengatasi hambatan dan sumbatan yang ada dalam upaya pencapaian MDG 4 dan 5 baik dari segi teknis program maupun pembiayaan, diperlukan perbaikan sistem penganggaran dan penyaluran anggaran pemerintah. Dalam proses penganggaran dan penyaluran anggaran untuk KIA saat ini, masih belum banyak peranan LSM dan universitas. Aktor-aktor pelaku lebih banyak pada Kementrian (Kesehatan dan Keuangan), DPR, dan Bappenas. Secara konkrit, belum ada semacam Watch Group untuk penganggaran dan penyaluran dana pemerintah untuk KIA.
Tujuan Diskusi:

  • Membahas hambatan yang ditemukan dalam penganggaran dan penyaluran anggaran pemerintah pusat dan daerah dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak;
  • Membahas pilihan kebijakan untuk mengatasi hambatan dalam penganggaran dan penyaluran anggaran di masa depan.
  • Membahas peran swasta dan masyarakat (termasuk Universitas) untuk memonitor proses penganggaran dan penyaluran anggaran pemerintah untuk program kesehatan ibu dan anak

Agenda Kegiatan:
Presentasi mengenai bottleneck penganggaran provinsi, pusat dan daerah, dan usulan kebijakan untuk kesehatan ibu dan anak.
Pembahasan Umum
Prof. Dr Laksono Trisnantoro, MSc. PhD, PMPK FK-UGM;
Pertemuan diskusi ini membahas penganggaran KIA dalam konteks peran kerja sama pemerintah pusat dengan lembaga donor, LSM/NGO serta badan-badan internasional. Pertemuan ini khusunya akan melihat peran NGO dalam konteks penyusunan, penganggaran, dan penganggaran Kesehatan Ibu dan Anak.

Tujuan dari konteks peran kerja sama NGO dengan pemerintah ini diharapkan akan membawa kebijakan anggaran lebih transparan, dalam penyusunan dan penganggaran secara teknis dan tidak teralu banyak aspek politis.
Pertanyaan inti diskusi dalam pertemuan ini adalah:
• Bagaimana peran NGO dan Badan Dunia dalam program KIA.
• Bagaimana peran para NGO bisa memberikan masukan dalam proses perencanaan dan penganggaran KIA.
Penggunaan dana dana pemerintah utuk sector KIA masih relatif terbatas. Misalnya Dana Alokasi Khusus tidak dapat digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat administrasi, penyiapan kegiatan, penelitian, pelatihan dan perjalanan dinas. Yang jadi masalah didaerah, harus ada penyediaan 10% dana pendamping dari APBD daerah, ini yang menyebabkan sebagian daerah merasa keberatan, karena akan menyedot dana program.
Point-point Kesimpulan:

  • Perlunya jejaring KIA antar lintas sector dan lintas pemangku kepentingan
  • RKA sebagai penjabaran anggaran rencana kegiatan harus dilihat sebagai hasil perencanaan dan sangat perlu dievaluasi dan dimonitoring, jangan hanya melihat dari renstranya.
  • Mengapa daerah tak tertarik tentang KIA? Ada indikasi kurang promosi, sehingga dirasakan perlu ada gerakan bersama dan perlu ada networking.
  • Bagaimana peran media, hampir mirip dengan peran NGO, mereka bisa digunakan sebagai alat watch-group untuk mengawasi jalannya program KIA ini.
  • Target pertemuan selanjutnya adalah bagaimana NGO bisa berperan lebih dalam rangka monitoring dan evaluasi program KIA ini, apakah perlu ada perubahan perundangan dan regulasi, bagaimana NGO berperan sebagai watch dog atau watch group bagi perencanaan dan penganggaran KIA.

Misi Kegiatan Child Survival

Berdasarkan pertemuan Child Survival tanggal 20 Mei 2010 di Hotel Salak, Bogor  terdapat masukan-masukan sbb:

  1. Kegiatan difokuskan pada kelompok umur dengan jumlah kematian terbanyak, yaitu kelompok umur < 1 tahun .
  2. Karena target kegiatan ini adalah untuk mencapai target MDG 4, yang mencakup angka kematian bayi dan balita, mestinya kegiatan ini terutama ditujukan untuk kelompok umur < 5 tahun.
  3. Kelangsungan hidup anak ditentukan sejak dalam kandungan, oleh karena itu mestinya kesehatan reproduksi dimasukkan (ibu hamil)
  4. Diharapkan Remaja putri juga menjadi bagian dari kegiatan ini.  Namun ada keberatan karena usulan ini tidak mencerminkan pendekatan focus yang sudah disepakati sebelumnya.
  5. Dalam misi perlu  untuk menyebutkan usaha menyeimbangkan ketidakmerataan pembangunan kesehatan antar wilayah dan antar status ekonomi

 

Kesimpulan diskusi:
Misi kegiatan child survival ditujukan untuk:

  1. Anak, dengan penekanan pada umur < 1 tahun
  2. Ibu hamil

Kegiatan child survival akan diprioritaskan pada propinsi tertinggal dan propinsi dengan jumlah absolute wanita meninggal banyak. Selanjutnya, di propinsi tersebtu akan diidentifikasi lagi kabupaten mana yang mempunyai kriteria tersebut.

Silahkan memberi komentar

Visi kegiatan child survival

Berdasarkan pertemuan Child Survival tanggal 20 Mei 2010 di Hotel Salak, Bogor  terdapat masukan-masukan sbb:
Visi Child Survival
Menjadi gerakan nasional untuk mencapai target MDG4 pada tahun 2015.
Sasaran
Dalam konteks sasaran strategis Kemkes 2010-2014

  1. Menurunnya AKBa dari 44 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup
  2. Menurunnya AKB dari 34 menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup
  3. Menurunnya angka kematian neonatal dari 19 menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup
  4. Bagi daerah yang sudah mencapi target, diharapkan ada penurunan sebesar  60% dari tahun 1990.

Sasaran lebih detil ke proses pelayanan, misalnya:
Cakupan KN1 90%
Cakupan  KN lengkap
Cakupan penanganan neonatal komplikasi 80%
Silahkan memberi komentar

Batasan Kegiatan Child Survival

Dalam pertemuan penyusunan rencana Child Survival tanggal 20 Mei 2010 di Hotel Salak Bogor dihasilkan  berbagai batasan dan indikator Child Survival yang diringkas sebagai berikut: 

 

Pendapat

Batasan

Indikator

A

Segala upaya untuk  mencegah kematian anak
 (Stop kematian anak)

  • Angka kematian anak menjadi 29/1000 kelahiran hidup

Indikator output

  • Semua bumil mendapatkan pelayanan ANC berkualitas
  • Semua persalinan ditolong nakes terlatih
  • Semua bayi mendapat pelayanan resusitasi dasar
  • Semua bayi mendapat IMP dan ASI eksklusif
  • Semua bayi mendapat vit K1
  • Semua bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
  • Semua bayi mendapat pelayanan pemantauna tumbang
  • Semua bayi sakit mendapat pelayanan berbasis MTBS
  • Tidak ada abortus provokatus

B

Suatu upaya yang dilaksanakan secara terpadu dan dengan pelayanan yang komprehensif dalam mempertahankan kehidupan anak serta menciptakan SDM yang berkualitas

  • Balita yang ditimbang dan naik berat badannya
  • Balita yang di SIDK/kunjungan bayi
  • Balita yang mendapat pendekatan MTBS
  • Neonatus yang mendapat inj. Vit Ka
  • Bayi yang diimunisasi
  • Balita dengan status gizi baik
  • Persalinan dengan Nakes, K4
  • Penanganan BBLR
  • Remaja Putri Anemia
  • Penanganan neonatus dalam gawat darurat

 C

Keberlangsungan hidup anak dari sejak dilahirkan samapi usia tertentu dengan kondisi sejahtera (fisik, emosi/mental dan social)

Umur 0 – 1 th: berat badan ideal
Umur 1 - < 5 th: berat badan dan tinggi badan ideal
Umur 5 – 13 th: memiliki kesehatan (fisik, pendidikan dan mental dan sosisal) yang baik
Umur 13 – 18 th: memiliki kesehatan (fisik, pendidikan, mental dan social) dan siap menjadi anggota masyarakat madani.

D

Upaya komprehensif untuk menjaga kelangsungan hidup anak (sejak lahir - 18 tahun;  dengan fokus pada balita) dengan mencegah kematiannya

Indikator umum:
Menurunnya AKB dan AKBa sesuai target dan RPJMN
Indikator proxy:

  • K4
  • Persalinan nakes
  • Kunjungan neonatal (KN2)
  • Angka kematian neonatal
  • Cakupan imunisasi lengkap
  • Cakupan pelayanan bayi
  • PONED berfungsi
  • PONEK 24 jam optimal
  • Tata laksana MTBS

E

Semua upaya yang dilakukan agar anak dapat bertahan hidup, tidak terjadi gangguan (penyakit, kecacatan) dengan baik sesuai usianya, sejak dalam kandungan samapai dengan usia 18 tahun

  • Angka kematian bayi dan balita turun
  • Angka kesakitan bayi dan balita turun
  • Angka kecacatan turun
  • Cakupan imunisasi meningkat
  • Statis gizi buruk turun
  • Tumbuh kembang sesuai milestone
  • Keterlambatan tumbuh kembang menurun

F

Upaya promosi kespro pencegahan penyakit di keluarga dan masyarakat
Upaya yankes yang komprehensif, khususnya pada bayi dan balita
Upaya kelangsungan hidup bayi dan balita

  • Angka kematian bayi dan balita
  • Angka kesakitan: diare, pneumonia, malaria, masalah neonatal
  • Status gizi.

G

Upaya kesehatan (pencegahan, kuratif dan promotif) yang dilaksanakan oleh semua pihak (petugas kesehatan, pemerintah, swasta) untuk menekan mortalitas dan morbisitas bayi dan balita

AKB, AKBa, PNà dit binkesmas

Imunisasi
Pneumonia, diare, dll P2PL
Lingkungan

Gizi

Obat, alat à Binfar

SDM à PPSDM

 

Disamping itu terdapat berbagai pendapat tentang kegiatan-kegiatan Child Survival yang dapat dimasukkan dalam kelompok:

  • Pelayanan berorientasi keluarga
  • Pelayanan  terjadwal yang berorientasi pada masyarakat
  • Pelayanan klinik  berorientasi perorangan

Pendapat

Pelayanan berorientasi keluarga

Pelayanan  terjadwal yang berorientasi pada masyarakat

Pelayanan klinik  berorientasi perorangan

A

  • Perawatan tali pusat
  • ASI eksklusif, IMD 80%
  • MP-ASi 100%
  • Oralit dan tablet zink
  • ANC
  • Imunisasi
  • Persalinan oleh Nakes
  • Ponek
  • Poned
  • MTBS
  • KN

 

  • Sanitasi lingkungan (PSN)
  • Lahir pada tenaga kesehatan yang terlatih
  • Pemantauan/perawatan bayi baru lahir secara berkala (KN1, KN2, KN3)
  • Imunisasi
  • ANC secara teratur
  • Gizi ibu hamil
  • ASI eksklusif

 

Kadarzi
(ASI eksklusif, Fe, garam yodium, makan buah sayur/menu seimbang)

  • K1
  • K4
  • ASI eksklusif
  • Vit A
  • Kasus diare dengan oralit dan Zink
  • Imunisasi lengkap
  • ISPA
  • Imunisasi/TT
  • Linakes
  • Vit K1
  • Vit A
  • Fe untuk ibu nifas

 

ASI eksklusif
KN
Kartu rumah

Imunisasi lengkap
Vit A

PONED
PONEK
MTBS

C

IMD dan ASI eksklusif

KN1 – KN3

Persalinan oleh nakes

D

Gizi ibu hamil

ANC

Persalinan normal oleh nakes terlatih

Kesimpulan dalam diskusi:

  • Definisi Child Survival ternyata bervariasi. Dengan demikian saat ini belum ada kejalasan mengenai Child Survival.
  • Misi Child Survival disepakati untuk mencapai  MDG dalam waktu dekat (2014). Oleh karena itu  kegiatan mestinya lebih focus, pada strategi agar anak balita dapat terhindar dari kematian yang tidak perlu. Oleh karena itu diputuskan untuk berfokus pada usia di bawah lima tahun dan kesehatan ibu.
  • Perlu melihat berbagai definisi ilmiah.

Silahkan memberi komentar dengan klik diskusi tentang batasan Child Survival

Batasan Kegiatan Child Survival

Dalam pertemuan penyusunan rencana Child Survival tanggal 20 Mei 2010 di Hotel Salak Bogor dihasilkan  berbagai batasan dan indikator Child Survival yang diringkas sebagai berikut: 

Pendapat

Batasan

Indikator

A

Segala upaya untuk  mencegah kematian anak
 (Stop kematian anak)

  • Angka kematian anak menjadi 29/1000 kelahiran hidup

Indikator output

  • Semua bumil mendapatkan pelayanan ANC berkualitas
  • Semua persalinan ditolong nakes terlatih
  • Semua bayi mendapat pelayanan resusitasi dasar
  • Semua bayi mendapat IMP dan ASI eksklusif
  • Semua bayi mendapat vit K1
  • Semua bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
  • Semua bayi mendapat pelayanan pemantauna tumbang
  • Semua bayi sakit mendapat pelayanan berbasis MTBS
  • Tidak ada abortus provokatus

B

Suatu upaya yang dilaksanakan secara terpadu dan dengan pelayanan yang komprehensif dalam mempertahankan kehidupan anak serta menciptakan SDM yang berkualitas

  • Balita yang ditimbang dan naik berat badannya
  • Balita yang di SIDK/kunjungan bayi
  • Balita yang mendapat pendekatan MTBS
  • Neonatus yang mendapat inj. Vit Ka
  • Bayi yang diimunisasi
  • Balita dengan status gizi baik
  • Persalinan dengan Nakes, K4
  • Penanganan BBLR
  • Remaja Putri Anemia
  • Penanganan neonatus dalam gawat darurat

 C

Keberlangsungan hidup anak dari sejak dilahirkan samapi usia tertentu dengan kondisi sejahtera (fisik, emosi/mental dan social)

Umur 0 – 1 th: berat badan ideal
Umur 1 - < 5 th: berat badan dan tinggi badan ideal
Umur 5 – 13 th: memiliki kesehatan (fisik, pendidikan dan mental dan sosisal) yang baik
Umur 13 – 18 th: memiliki kesehatan (fisik, pendidikan, mental dan social) dan siap menjadi anggota masyarakat madani.

D

Upaya komprehensif untuk menjaga kelangsungan hidup anak (sejak lahir - 18 tahun;  dengan fokus pada balita) dengan mencegah kematiannya

Indikator umum:
Menurunnya AKB dan AKBa sesuai target dan RPJMN
Indikator proxy:

  • K4
  • Persalinan nakes
  • Kunjungan neonatal (KN2)
  • Angka kematian neonatal
  • Cakupan imunisasi lengkap
  • Cakupan pelayanan bayi
  • PONED berfungsi
  • PONEK 24 jam optimal
  • Tata laksana MTBS

E

Semua upaya yang dilakukan agar anak dapat bertahan hidup, tidak terjadi gangguan (penyakit, kecacatan) dengan baik sesuai usianya, sejak dalam kandungan samapai dengan usia 18 tahun

  • Angka kematian bayi dan balita turun
  • Angka kesakitan bayi dan balita turun
  • Angka kecacatan turun
  • Cakupan imunisasi meningkat
  • Statis gizi buruk turun
  • Tumbuh kembang sesuai milestone
  • Keterlambatan tumbuh kembang menurun

F

Upaya promosi kespro pencegahan penyakit di keluarga dan masyarakat
Upaya yankes yang komprehensif, khususnya pada bayi dan balita
Upaya kelangsungan hidup bayi dan balita

  • Angka kematian bayi dan balita
  • Angka kesakitan: diare, pneumonia, malaria, masalah neonatal
  • Status gizi.

G

Upaya kesehatan (pencegahan, kuratif dan promotif) yang dilaksanakan oleh semua pihak (petugas kesehatan, pemerintah, swasta) untuk menekan mortalitas dan morbisitas bayi dan balita

AKB, AKBa, PNà dit binkesmas

Imunisasi
Pneumonia, diare, dll P2PL
Lingkungan

Gizi

Obat, alat à Binfar

SDM à PPSDM

 

Disamping itu terdapat berbagai pendapat tentang kegiatan-kegiatan Child Survival yang dapat dimasukkan dalam kelompok:

  • Pelayanan berorientasi keluarga
  • Pelayanan  terjadwal yang berorientasi pada masyarakat
  • Pelayanan klinik  berorientasi perorangan

Pendapat

Pelayanan berorientasi keluarga

Pelayanan  terjadwal yang berorientasi pada masyarakat

Pelayanan klinik  berorientasi perorangan

A

  • Perawatan tali pusat
  • ASI eksklusif, IMD 80%
  • MP-ASi 100%
  • Oralit dan tablet zink
  • ANC
  • Imunisasi
  • Persalinan oleh Nakes
  • Ponek
  • Poned
  • MTBS
  • KN

 

  • Sanitasi lingkungan (PSN)
  • Lahir pada tenaga kesehatan yang terlatih
  • Pemantauan/perawatan bayi baru lahir secara berkala (KN1, KN2, KN3)
  • Imunisasi
  • ANC secara teratur
  • Gizi ibu hamil
  • ASI eksklusif

 

Kadarzi
(ASI eksklusif, Fe, garam yodium, makan buah sayur/menu seimbang)

  • K1
  • K4
  • ASI eksklusif
  • Vit A
  • Kasus diare dengan oralit dan Zink
  • Imunisasi lengkap
  • ISPA
  • Imunisasi/TT
  • Linakes
  • Vit K1
  • Vit A
  • Fe untuk ibu nifas

 

ASI eksklusif
KN
Kartu rumah

Imunisasi lengkap
Vit A

PONED
PONEK
MTBS

C

IMD dan ASI eksklusif

KN1 – KN3

Persalinan oleh nakes

D

Gizi ibu hamil

ANC

Persalinan normal oleh nakes terlatih

Kesimpulan dalam diskusi:

  • Definisi Child Survival ternyata bervariasi. Dengan demikian saat ini belum ada kejalasan mengenai Child Survival.
  • Misi Child Survival disepakati untuk mencapai  MDG dalam waktu dekat (2014). Oleh karena itu  kegiatan mestinya lebih focus, pada strategi agar anak balita dapat terhindar dari kematian yang tidak perlu. Oleh karena itu diputuskan untuk berfokus pada usia di bawah lima tahun dan kesehatan ibu.
  • Perlu melihat berbagai definisi ilmiah.

Silahkan memberi komentar

Penyusunan Rencana Aksi Kesehatan Anak

Pengantar
Laman website ini dikembangkan untuk mendukung penyusunan Rencana Strategis/Operasional Child Survival (Kelangsungan Hidup Anak). Sistematika penulisannya adalah:

  1. Pendahuluan
  2. Batasan Kegiatan Child Survival.
  3. Misi Kegiatan Child Survival
  4. Visi Kegiatan Child Survival
  5. Isu-isu strategis
  6. Strategi Kegiatan Child Survival: Strategi Umum; Strategi Fungsi pendukung (termasuk Pendanaan)
  7. Program 5-10 tahun, dan indikasi sumber dana

Dalam laman ini akan ditayangkan proses dan draft Child Survival. Berbagai pihak akan diundang untuk memberikan komentar terhadap draft. Caranya adalah dengan mengklik isi di atas. Setelah diklik akan mendapat dokumen draft dan satu ruang untuk diskusi virtual. Silahkan mengklik dan memberikan komentar.

Ringkasan 26 April - 31 Mei 2010

None

Penanganan Emergency Kebidanan

Fasilitator: Dr. Ova Emilia, M.Med.Sc, Ph.D, Sp.OG 
Diskripsi:
Angka Kematian Ibu masih tinggi di Indonesia. Kematian Ibu sebagian membutuhkan penanganan emergency. Dalam hal ini, masih sedikit kebijakan mengenai AKI yang mengarah ke tenaga dokter spesialis Obsgin dan dokter umum yang kompeten untuk melakukan emergency. Di sisi pelayanan kelembagaan, kebijakan PONEK dan PONED saat ini bersifat belum terintegrasi. Kebijakan PONEK berada di rumahsakit yang menjadi kewenangan DitJen Yan Medik sementara PONED di bawah DitJen Binkesmas. Yang menarik, saat ini Kementrian Kesehatan Indonesia sedang mencoba menggabungkan urusan pelayanan rumahsakit dan puskesmas.
 
Isi Kebijakan:

  • Apakah kebijakan emergency kebidanan di rumahsakit (PONEK) dan di puskesmas (PONED) sudah tepat? Apakah PONEK harus di rumahsakit? Mungkinkah PONEK dijalankan di fasilitas pelayanan bukan rumahsakit?
  • Apakah perlu peningkatan peran Dokter Umum untuk melakukan emergency kebidanan dalam konteks “clinical priviledge”.

 
Kebijakan ini berada dalam konteks:

  • Undang-undang Praktek Kedokteran
  • Kompetensi Dokter Umum yang memang tidak membolehkan emergency kebidanan seperti SC.
  • Kebijakan Kementrian Kesehatan mengenai PONEK di rumahsakit dan PONED di Puskesmas
  • Kebijakan Desentralisasi Kesehatan.

 
Aktor yang terlibat:
Dokter ObsGin, Dokter Umum, Dokter Anastesi, Dokter Anak, Bidan, Pimpinan Kementrian Kesehatan, Pimpinan DinKes, Ikatan Profesi, Tokoh Masyarakat, LSM, dan lain-lain.

Isu kebijakan tentang pemberian ASI secara eklusif

Fasilitator: dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A
Diskripsi:

  • Target MDG4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990 - 2015. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan AKB.
  • Dalam pelaksanaannya tidak semua aktor melaksanakan kebijakan tersebut dengan bukti cakupan pemberian ASI eklusif masih rendah dibawah target nasional (80%)

Isi Kebijakan

  1. Kepmenkes RI 450/MENKES/SK/IV 2004 tentang pemberian ASI secara eklusif bagi bayi di Indonesia sejak lahir sampai usia 6 bulan dan dianjurkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yg sesuai dan semua tenaga kesehatan yang bekerja disarana kesehatan agar menginformasikan kepada semua ibu melahirkan agar memberikan ASI eklusive dengan mengacu pada 10 langkah keberhasilan menyusui.
  2. Rekomendasi tentang pemberian makan bayi pada situasi darurat.
    1. pernyataan bersama WHO, UNICEF dan IDAI, 2005
    2. pedoman pemberian makanan pada bayi dan anak pada situasi darurat bagi petugas kesehatan, Depkes 2007
    3. Peraturan bersama Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Menteri tenaga kerja dan transmigrasi dan menteri Kesehatan tentang pemberian ASI selama waktu kerja ditempat kerja, 2008

Aktor

  1. Menteri kesehatan, menteri negara pemberdayaan wanita, menteri tenaga kerja dan transmigrasi
  2. Pemda, Pemkot
  3. Petugas kesehatan
  4. Rumah Sakit, klinik bersalin, Puskesmas
  5. Organisasi profesi (IDAI, IDI, IBI, POGI)
  6. LSM: Unicef, WHO
  7. Produsen susu formula

Konteks
Faktor yang mempengaruhi pelaksaan kebijakan:

  1. Pemda, Dinkes
    Tidak semua pemda menindaklanjuti secara kongkrit peraturan tentang pemberian ASI eklusif melalui 10 langkah keberhasilan menyusui, misalkan dalam perda (termasuk reward dan sangsi bagi yang melaksanakannya), penganggaran dalam APBD misalnya untuk pelatihan-pelatihan untuk petugas kesehatan dan promosi.
  2. Petugas kesehatan (bidan, perawat, dokter)
    Masih banyak petugas kesehatan yang belum menjalankan kebijakan ini. Petugas kesehatan sangat berperan dalam keberhasilan proses menyusui, dengan cara memberikan konseling tentang ASI sejak kehamilan, melaksanakan inisiasi menyusui dini (IMD) pada saat persalinan dan mendukung pemberian ASI dengan 10 langkah kebehasilan menyusui. Beberapa hambatan kurang berperannya petugas kesehatan dalam menjalankan kewajibannya dalam kontek ASI ekslusif lebih banyak karena kurang termotivasinya petugas untuk menjalankan peran mereka disamping pengetahuan konseling ASI yang masih kurang.
  3. Promosi produsen susu formula.
    Meskipun sudah ada peraturan dan kode etik tentang pemasaran susu formula, tetapi dalam pelaksanaanya masih ada produsen yang tidak melaksanakan secara benar. Gencarnya promosi produsen susu formula baik untuk publik maupun untuk petugas kesehatan (dengan memberikan bantuan untuk kegiatan ilmiah) menghambat pemberian ASI ekslusif.
  4. Ibu bekerja. 
    Dengan semakin banyaknya prosentasi ibu menyususi yang bekerja akan menghambat praktek pemberian ASI ekslusif. Meskipun sudah ada SKB bersama 3 menteri tentang hak ibu bekerja yang menyusui dalam prakteknya tidak semua tempat kerja mendukung praktek pemberian ASI
  5. Ibu dengan HIV positif. 
    Pemberian ASI pada ibu dengan HIV positif didasarkan kalkulasi antara kerugian dan manfaat penghentian atau melanjutkan pemberian ASI, yaitu kemungkinan anak tertular/ terinfeksi virus HIV dari ASI dan kerugian akibat anak tidak mendapat ASI syang berakibat meningkatkan risiko terjadinya diare, pneumonia, kurang gizi dan infeksi lain. Sebelumnya WHO merekomendasikan salah satu cara dalam Preventive mother to child transmission (PMCT) adalah menghentikan pemberian ASI kecuali bila susu formula tidak memenuhi syarat affordable, accessabel, safety, sustainable (AFASS). Penelitian terbaru membuktikan bahwa pemberian ARV pada ibu hamil lebih awal dan dilanjutkan selama menyusui terbukti dapat mencegah transmisi virus HIV melalui ASI, sehingga WHO (2009) merekomendasikan pemberian ASI pada ibu yang telah yang telah mendapat ARV profilaksi.
  6. Kondisi darurat misalnya bencana. 
    Pada kondisi yang darurat pemberian ASI menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi. Bila mendapat sumbangan susu formula, maka distribusi maupun penggunaannya harus di monitor oleh tenaga yang terlatih, dan hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas, yaitu: telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan, diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu, misalnya: anak piatu, bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui, persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya, dan harus diberikan konseling pada ibu tentang penyiapan dan pemberian susu formula yang aman, dan tidak boleh dengan menggunakan dot. 
    Belajar dari pengalaman tsunami di Aceh dan gempa di DIY, bantuan susu formula menyebabkan turunnya pencapaian ASI eklusif.
You are here